#Sharing: Berhenti Mengumandangkan Impian

Belakangan ini saya menemukan pandangan baru tentang mengapa sebaiknya kita berhenti ‘mengumandangkan’ impian pribadi.

Eh, mengapa harus berhenti?

Gini sob, saat kita membicarakan impian pribadi kita pada orang lain, mungkin kita akan mendapat respon semacam… “Keren banget!”, “Aku percaya kamu bisa!”, “Kamu hebat!”, “Lavyu!” (lho kok), dan respon positif lain yang membesarkan hati kita.

Ya trus kenapa? Bukannya bagus dapat respon gitu?

Pada dasarnya, manusia sangat mudah puas. Saat kita mendapat respon positif semacam itu mungkin kita merasa sudah tenang atau cukup dengan apa yang kita capai atau usahakan, dan perasaan tersebut sedikit-banyak akan mengendurkan semangat kita untuk bersungguh-sungguh mewujudkan impian kita.

Mungkin ini tidak terjadi pada semua orang. Tetapi saya seringkali merasa demikian. Dan saya kira saya bukan satu-satunya.

Saya merasa berbeda rasanya ketika saya menutup mulut sambil terus bekerja keras pada impian saya. Kemudian menunjukkan apa yang saya kerjakan ketika sudah memunculkan hasil. Proses semacam ini justru menjadikan saya lebih fokus untuk bekerja juga mendapatkan kepuasan lebih ketika menunjukkan hasil kerja saya kepada orang lain (dan melihat ekspresi ‘wow’ di wajah mereka).

“Resist the temptation to announce your goal, delay the gratification that the social acknowledgement brings, and understand that your mind mistakes the talking for the doing”

– Derek Sivers

Oke, mungkin juga kamu berpikir dengan ‘mengumandangkan’ impianmu ke lebih banyak orang, akan lebih banyak juga yang mengaamiinkan impianmu. Yakin? Kenyataannya tidak semua orang cukup peduli untuk mengaamiinkan impian-impian pribadi kita, beberapa mungkin malah akan menyinyir di belakang. Kebanyakan orang sudah cukup sibuk dengan impian-impiannya sendiri.

Cukup utarakan impian pribadi kepada orang-orang terdekat yang kita percaya pasti akan mendukung kita. Dan tentunya kepada Dia yang selalu ada untuk kita dan selalu mendengarkan segala hajat kita, bahkan sebelum kita mengutarakannya.

Postingan ini terinspirasi dari video di bawah ini. Thanks to Thomas Frank 🙂

#Sharing: Bagaimana Saya Berhenti Menonton Anime

Sebagaimana saya menulis Mengapa Saya Berhenti Menonton Anime, saya merasa perlu sharing tentang bagaimana (saya) melakukannya. Mungkin terdengar sulit karena kecanduan sesuatu seperti Anime dan remeh-temehnya bisa semengerikan kecanduan rokok dan narkoba—if u are the next level one. Tapi kamu tak akan pernah tahu jika tak mencoba. Berikut beberapa langkah yang saya lakukan hingga saya berhenti menonton Anime secara total, besar harapan kamu mencobanya juga…

Pertama, Menyesal

Setiap orang tergerak melakukan sesuatu karena ada alasan dibaliknya dan salah satu bentuk alasan terkuat adalah penyesalan. Saya mulai memutuskan berhenti menonton Anime setelah menyesali begitu banyak waktu yang saya buang di masa muda berharga saya karena kegemaran tersebut, untuk kemudian menyadari bahwa ada banyak hal yang perlu saya lakukan dan waktu yang saya luangkan untuk mulai menjadi lebih baik.

Jika kamu juga benar-benar ingin berhenti, menurut saya kamu perlu meluangkan satu hari dalam hidupmu untuk merenung, mengakui kesalahan, dan menemukan penyesalanmu. Jadikan penyesalan sebagai titik tolak sekaligus bahan bakar untuk terus menetapi jalan hijrahmu menjadi pribadi yang lebih baik.

“A man’s mistakes are his portals of discovery.”
– James Joyce

Kedua, Meniatkan Hijrah untuk Hal Baik

Menyesal saja tidak cukup, butuh tindakan lanjut. Setelah menyesal, saya merasa perlu mengubah sesuatu. Mengubah diri saya menjadi lebih baik. For what? Saya meniatkan berubah menjadi lebih baik supaya bisa lebih bermanfaat bagi orang terdekat—dan semoga orang banyak. Saya meniatkan untuk membahagiakan kedua orang tua saya. Saya meniatkan untuk berkarya memberi lebih banyak makna dan warna diantara singkatnya fase kehidupan dunia. Saya meniatkan untuk hanya melakukan dan menjadi apa yang diridhoi-Nya.

I don’t know what u want, tapi apapun itu semoga kamu meniatkan untuk hal baik, jika mungkin untuk orang lain juga. Dan yang terpenting berdo’a. Sebut niat-niat baikmu di waktu-waktu mesramu dengan Dia, kamu akan tahu kekuatan do’a tak pernah bisa diremehkan.

Ketiga, Melenyapkan Sumber Masalah

Apa yang kita lakukan jika terjadi kebakaran? Ya, memadamkan api. Bukan menyembunyikan asap—apalagi mengambil foto. Sesaat saya memutuskan berhenti menonton Anime, sesegera itu pula saya melenyapkan sumber masalahnya. Melenyapkan, bukan sekedar menjauhkan. Menjaga jarak dengan api tidak membuat kebakaran berhenti.

Saya menghapus ratusan GB file Anime, AMV, Light Novel, Soundtrack, Dorama, dan Live Action Movie di laptop, membuang koleksi aksesori, keluar dari semua grup penggemar anime, menghapus akun khusus, memutus kontak dengan orang-orang kecuali yang memiliki hubungan di luar topik Anime. Well, i think u must do the same if u really wanna stop, or never.

Keempat, Melakukan Secara Bertahap

Sulit untuk membayangkan diri kita melakukan suatu kegemaran yang melenakan selama bertahun-tahun dan berhenti melakukannya dalam semalam. Saya pun berhenti menonton Anime secara bertahap. It take at least 6 months for me to really stop. Detailnya…

  1. Bulan pertama, saya masih membiarkan diri saya menonton Anime seharian sembari merencanakan bagaimana sebaiknya saya mulai berhenti.
  2. Bulan kedua, saya membiarkan diri saya menonton Anime seharian tetapi hanya di hari weekend (sabtu-minggu).
  3. Bulan ketiga, saya tetap menonton di hari weekend dengan batasan 1 hari hanya 1 season serial Anime (±12 episode atau sekira durasi 6 jam).
  4. Bulan keempat, saya membatasi hanya menonton 1 season serial Anime (durasi 6 jam) dalam sebulan, waktunya terserah kapanpun saya mau tetapi hanya 1 season.
  5. Bulan kelima, tanpa batasan waktu agak membingungkan jadi saya mengembalikan batasan waktunya hanya di hari weekend ditambah pengurangan menjadi 1 episode dalam sehari.
  6. Bulan keenam, I. Completely. Stop. Watching. Anime. Yatta~! Astagfirullah jiwa weaboo-nya masih tersisa -_-

Begitulah. Saya tidak yakin plan yang sama akan bekerja untuk kamu. But it’s not really bad to try either my plan or ur own.

FYI, Anime terakhir yang saya tonton hingga tamat adalah Gintama, hanya karena saya benci untuk tidak menyelesaikan apa yang telah saya mulai dan Gintama terlalu bagus untuk dilewatkan.

Kelima, Mencari Kegiatan Positif

Memiliki kegiatan positif membantu saya mengalihkan perhatian untuk tidak melakukan kegiatan yang membuang waktu. I love visual art, fiction (still), and IT. So i waste my time to learn about graphic design, storywriting, and little bit programming—then start thinking how if i write a graphic novel about programmer haha just kidding.

Temukan kegiatan positif yang kamu sukai dan ‘jatuh cinta’-lah padanya. Suka makan? Cobalah memasaknya sendiri. Suka corat-coret? Cobalah menggambar sesuatu yang lebih serius, komik mungkin. Suka cerita? Cobalah tulis ceritamu sendiri. Suka nonton dan internetan? Cobalah mengakses konten seru di TED, IndonesiaX, SlideShare, atau sebangsanya (mungkin selanjutnya akan saya tuliskan daftar situs favorit saya), setidaknya jangan lagi mengakses situs seputar Anime dan Manga. Just try, it would never hurt u. Suka kamu? Itu mah aku. Eh.

Itulah beberapa langkah yang saya lakukan hingga saya berhenti menonton Anime secara total, dan agaknya langkah-langkah tersebut juga dapat diterapkan untuk menghentikan kegemaran kurang/tidak bermanfaat lain semisal gaming, menonton drama Korea, atau mungkin menonton konten porno (Na’udzubillah). Yuk mulai memperbaiki diri…

Last But Not Least, Jangan Menunda

Kita semua penunda. Faktanya begitu. Sebagian besar penunda akan dihantui ketidakbahagiaan dan penyesalan atas penundaan-penundaaan dalam hidupnya. Tapi ada sebagian kecil penunda yang sukses dan bahagia, rahasianya? Mereka berhenti menjadi penunda. Waktu terbaik untuk memulai sesuatu yang baik adalah sekarang. So, just start. Now. Bismillah 🙂

#Sharing: Mengapa Saya Berhenti Menonton Anime

Ya. Setiap orang pasti pernah memiliki masa lalu buruk, mengalami penyesalan, dan membuat keputusan sulit. Begitu juga saya. Ada salah satu pengalaman saya yang agaknya menggelikan untuk diceritakan, but i think it’s worthy to share—sejak saya terganggu melihat di luar sana teramat banyak orang-orang seperti diri saya yang dulu, diri yang saya sesali.

Berhenti menonton Anime secara total. Sebuah keputusan dan pengalaman menarik bagi saya yang akan selalu saya syukuri. Calm down, i don’t try to influence u to stop ur hobbies, i just wanna share my story. So, this is

MASA LALU

Sejak kecil saya jatuh cinta pada cerita fiksi. Entah dimana hari mulanya. Sejauh yang bisa saya ingat ketika TK saya sudah membaca komik The Adventures of Tintin dan menonton serial Power Rangers. Dulu saya hafal seluruh karakter Naruto, mogok makan ketika Kabutaku berhenti ditayangkan RCTI, dan dengan pede-nya meneriakkan “Power Rangers!” acap kali ditanya cita-cita. Saya selalu setia menonton kartun pagi-sore di Indosiar, ANTV, Lativi, TV7, juga Space Toon yang konon katanya saluran masa depan tapi entah menguap ke mana wujudnya kini.

Ketika masuk SD dan TPA sedikit berubah. Saat saya mulai kekurangan waktu menikmati cerita fiksi kartun atau Anime di layar kaca saya menemukan kenikmatan lain : mengoleksi ratusan Action Figure karakter fiksi dan memainkan cerita buatan saya sendiri. Memang tetap ada waktu bermain dengan teman, tetapi waktu untuk bermain dengan Action Figure bisa disebut gila. Saya bahkan bermain action figure saat orang-orang terlelap! Kabar baiknya saat itu saya pengidap Chunnibyou yang menganggap diri saya Rangers hitam setengah serigala dengan kemampuan ninja yang mampu mengendalikan cuaca. Great!

capture

Sisa-sisa peninggalan jaman jahiliyah. (Source: Dokumen Pribadi)

Masa SMP-SMK/STM ada sisi baik, saya mulai punya cita-cita normal menjadi animator, lalu komikus, lalu illustrator (Lalu saya menyerah. I think it’s tough and unbeneficial at the time, then i regret how fast i surrender). Sisi buruknya, saya menghabiskan 6 tahun berharga saya untuk membaca belasan buku Manga atau komik sepekan, membaca belasan judul Light Novel, menghadiri pelbagai event jejepangan, mengoleksi bermacam aksesori, memberi perhatian untuk setiap postingan tidak penting—untuk tidak menyebutnya sampah—di grup facebook penggemar Anime, dan yang paling $@^&% adalah menonton belasan episode Anime sehari. Great! Greatly poor!

Saya bangga. Saat orang-orang menyebut saya maniak, Animelovers, Otaku, Weaboo, atau sebutan sejenis. Saat saya mengajak orang lain turut menekuni kegemaran saya. Saat saya dianggap yang paling tahu dalam suatu topik tidak penting. Saat saya merasa menjadi penggemar terbaik suatu Anime di muka bumi. Saya sangat bangga, setidaknya sampai masa itu tiba…

“By time; Indeed, mankind is in loss; Except for those who have believed dan done righteous deeds and advised each other to truth and advised each other to patience.”
– Al-‘Asr : 1-3

PENYESALAN

Tahun terakhir STM, masa mengkhawatirkan, masa dimana siswa ternakal (dan gundul) sekalipun bisa tetiba berubah menjadi rajin dan sholeh. Ada banyak hal yang perlu dipikirkan, UAS, UPK (Uji Keterampilan), UN, dan apa yang akan dilakukan pasca sekolah. I don’t care with those fluffin’ exams, semua siswa toh akan tetap lulus berkat kemurahan hati guru-guru kita mengatrol nilai. Topik yang disebut terakhirlah yang men-dagdigdug-kan saya, “saya mau ngapain pasca sekolah?”. Kerja? Awalnya saya berpikir begitu karena terpengaruh pilihan kebanyakan teman dan utamanya karena saya enggan mencari nilai-nilai (lagi) di bangku kuliah.

Hingga saya mempertanyakan apakah saya memang sudah layak terjun di dunia profesional—dunia sesungguhnya—dan mulai membandingkan kualitas diri saya dengan teman-teman saya. Teman-teman saya punya komunikasi yang baik, saya bicara di depan kelas saja kelu. Mereka menguasai banyak bahasa, saya hanya bahasa Indonesia dengan tata bahasa buruk. Mereka berpengalaman organisasi, saya benar-benar buta. Mereka punya banyak jaringan, saya hanya kenal teman sekelas. Mereka berprestasi, saya tak pernah mengangkat piala. Mereka punya banyak kemampuan, saya… Hhh, apa yang sebenarnya membedakan saya dengan mereka?

Perbedaan—dan kesalahan—mendasarnya adalah : saya menghabiskan waktu dengan cara yang salah. Sejak awal usia belasan, umumnya teman-teman saya—entah dalam kesadaran atau tidak—mulai sibuk mengembangkan diri, belajar sesuatu yang baru, ikut bermacam kursus, menapaki dunia organisasi, mencari banyak teman, membaur di kegiatan sosial, bersaing di berbagai kompetisi, menghabiskan waktu untuk hal bermanfaat. Sedangkan saya? Semua yang saya lakukan di usia belasan hampir tidak bermakna apalagi bermanfaat.

Apa manfaatnya seharian menonton serial Anime? Mencari inspirasi? You can get it everywhere maan. Belajar bahasa jepang? Ada resource gratis yang lebih efektif di internet. Menemukan bahagia? Bahagia di dalam dirimu sendiri. Hiburan? Manusia sehat tidak perlu dihibur sepanjang hari atau ada sesuatu dalam hidupmu yang perlu dibenahi. Supaya keren? Actually it’s more weird than cool. Mencari teman? Teman yang baik selalu datang dari jalan yang baik. Semua argumen yang pernah saya gunakan sebagai pembenaran pada akhirnya saya patahkan sendiri. Pada akhirnya semuanya hanya : Buang. Buang. Waktu. Titik.

1419223_455499534561438_221724473_o

Ada suatu masa dimana laptop saya isinya cuma video Anime. (Source: Dokumen Pribadi)

Saya merasa butuh kesempatan lagi untuk mengembangkan kualitas diri menjadi lebih baik sebelum menghadapi dunia sesungguhnya. Dan akhirnya saya memutuskan kuliah. But first, saya merasa perlu menunjukkan bukti komitmen saya untuk menjadi lebih baik. Saya harus meninggalkan kegemaran menonton Anime dan segala remeh-temehnya secara total—total atau tidak sama sekali. Maka saya menghapus ratusan GB file Anime, AMV, Light Novel, Soundtrack, Dorama, dan Live Action Movie di laptop, membuang koleksi aksesori, keluar dari semua grup penggemar Anime, menghapus akun khusus, memutus kontak dengan orang-orang kecuali yang memiliki hubungan di luar topik Anime, dan berhenti membahas semua itu dengan siapapun. Itu sulit, bahkan harus dilakukan secara bertahap. Tetapi untuk meraih hal yang besar, kamu memang harus mengorbankan hal besar lainnya.

“He who would accomplish little must sacrifice little; he who would achieve much must sacrifice much; he who would attain highly must sacrifice greatly.”
– James Allen

HARI INI

Tiga tahun setelah berhenti menonton anime adalah 3 tahun yang sulit bagi saya. Sulit karena berjuang melawan keinginan untuk kembali ke kegemaran lama. Sulit karena harus belajar begitu banyak hal untuk mengejar ketertinggalan ilmu dan pengalaman dari orang-orang seusia saya—dan juga harus mencari cara tercepat belajar. Tapi hanya karena sesuatu sulit bukan berarti itu tidak mungkin dilakukan. Saya berusaha melakukannya dan hasilnya saya mencoba banyak hal, mengalami banyak hal, mempelajari banyak hal, gagal pada banyak hal, juga mencapai banyak hal, dan tentunya menyadari ada lebih banyak hal lagi yang harus dipelajari untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Memang hasilnya tidak sebaik yang diharapkan tetapi setidaknya keputusan berhenti menonton anime secara total membantu saya lebih fokus dan punya lebih banyak waktu meningkatkan kualitas diri dan melakukan hal bermanfaat. Saya kira itu sebuah keputusan yang tepat dan saya tak akan menyesalinya.

Ah, ya! Salah satu hal yang saya pelajari 3 tahun terakhir—storywriting—memberi saya pemaknaan baru :

Bahwa daya tarik cerita fiksi ialah drama, dan cerita hidup kadang lebih dramatis dari fiksi.

Bahwa dalam cerita fiksi terdapat alur berpola yang dapat ditebak bagi mereka yang seringkali menikmati atau mengarang dan cerita hidup lebih penuh kejutan karena tak pernah dapat ditebak.

Bahwa dalam cerita hidup, kamu bertindak sebagai karakter utamanya, bukan lagi sebagai penonton yang berempati. Kamu yang memegang kendali atas semua pilihan yang turut menentukan indahnya keseluruhan jalan cerita hidupmu. Kamu juga yang merasakan semuanya. Fase ketidakpuasan, fase pengubahan, fase penolakan, fase perjuangan, fase tenang, fase pengkhianatan, fase terpuruk, fase bangkit, fase kejutan, fase pertempuran akhir, dan tentunya fase kemenangan dan fase bahagia.

Bahwa cerita hidupmu bisa lebih indah dari cerita fiksi manapun, bisa kamu banggakan lebih dari cerita fiksi manapun, bisa kamu kenang lebih dari cerita fiksi manapun. Takkan terlupakan, sampai kapanpun…

Jadi, kamu mau terus-menerus menjadi penonton cerita fiksi Anime-Anime (dan drama Korea 😀 ) yang gak ada habisnya itu atau mau menjadi karakter utama terkeren yang memperjuangkan dan memenangkan cerita hidupmu sendiri?

Pilihannya ada di kamu, karena kamulah karakter utamanya!

“The Protagonist of a dramatic novel should always be determined, well motivated, and willful.”
– James N. Frey

Image

#RandomTought: 2nd

img_20170119_124003

Ya, ada hari-hari dimana semesta seolah mendukung. Mendukung untuk menghancurkanmu.
Hari-hari yang membuatmu ingin segera terlelap, terlupa, lalu bangun di lain hari.
Hari-hari yang membuatmu ingin diam saja, tidak bertemu, tidak bergerak, pun tidak berbicara.
Hari-hari yang membuatmu meragu, menyesal, ingin berhenti jadi dirimu sendiri.
Hari-hari yang membuatmu meragu pada segala hal yang selama ini kamu dekap erat.

Tidak, jangan lari meski hanya sebentuk pikiran. Ini hanya fase sebuah skenario langit.
Bahwa setiap yang menemui hari temaram kelak akan menemui hari terang.
Bahwa setiap yang merasakan duka-luka kelak akan merasakan suka-cita.
Bahwa selalu ada makna dan pelajaran dibalik lika-liku cerita membingungkan.
Terus berjalan, terus percaya keindahan skenario langit, dan yang pasti terus percaya pada Sang Penulis Skenario.

Catatan : Bagian terbaik ceritamu bisa jadi bukan di bab terakhir, bisa jadi tak ada di sepanjang cerita. Melainkan ‘disimpan’ di sepanjang sekuel cerita yang akan datang 🙂

Image

#RandomTought: 1st

img_20170118_065646

Maaf, orang yang hendak kamu ajak berjalan jauh rupanya masih sibuk bertata pikir, belajar terbang, menahan topan, pun meminang langit. Jangan menunggunya, kau tahu betul menunggu tak pernah menyenangkan.

Teruslah berjalan di jalan yang baik, karena di sana mungkin kamu akan Allah pertemukan dengan orang baik lain yang memiliki tujuan sama denganmu yang siap sedia berjalan jauh bersama-sama kamu. Pilihan itu lebih baik untukmu.

#Sharing: Tifus, Pergumulan, dan Hal-Hal Baru

Seminggu belakangan ini saya baru sakit Tyfus atau Tifus atau Typhus atau Tipes (anak bahasa sungguhan tolong aku!). Mendadak sekali. Sedang syahdu menyelami suatu jumat sore di selasar Masjid NH sembari mendiskusikan tampilan website PKM Center UNS bareng anak-anak SIM dan mas-mas Puskom UNS, tetiba badai kepala rasanya kayak dijitakin dari dalam. Setelah bada Ashar pindah ke sekre SIM, jitakan berubah jadi getokan godam. Makin aduhai. Maksud hati ngerjain Bab IV laporan magang, mampu diri hanya ngjogrog di sudut sekre sambil baca mojok.co. Faktanya baca mojok.co ternyata tidak meringankan sakit kepala—tambah ngelu iya, akhirnya saya pulang ke kos. Nahas sejak menginjak kaki di kos sore itu, sakit kepala bertransformasi jadi demam tinggi, badan sakit, mual, dan lainnya. Pas diperiksa bang Ludi —anak kos yang dokter koas— katanya belum bisa dipastikan sakit apa, perlu dites lab siapa tau DB tapi yang jelas demam tinggi terus dia kasih paracetamol beberapa biji. Ngaruh? Lumayan, tapi rupanya badan saya minta lebih. Dua hari di kos gak membaik, minggu pagi akhirnya saya pulang ke rumah, periksa ke dokter umum dengan hasil diagnosis sakit Tifus, dan dirawatin di rumah sama ibu (opsi utamanya di rumah sakit sebenernya). Solusi praktis dan bijaksana. Ibu memang keren.

Sakit Tifus itu gak enak. Sakit kepala tak kunjung usai. Organ pencernaan dari mulut sampai ‘bawah’ terganggu. Makan apapun rasanya hoekk. Sekujur badan sakit gak kuat buat ngapa-ngapain selain menonton TV (selain membuat badan sakit, sakit Tifus secara tidak langsung juga bisa membuatmu bodoh secara perlahan!). Dan ternyata Tifus itu bisa jadi penyakit kambuhan dan beresiko kematian. Jangan main-main.

Kalo diingat sakit Tifus saya ini ada kaitannya dengan pola hidup mengerikan saya belakangan ini sebelum jatuh sakit. Saya begadang hampir tiap malam. Ngapain? Ngerjain tugas dan project-project pribadi aja sih. Beberapa kali setelah begadang langsung saya lanjutkan dengan jogging di sekitaran kampus UNS lalu kuliah hingga sore tanpa sempat tidur. Belum lagi saya hanya makan sekali sehari dalam beberapa hari. Bukan. Bukan karena gak punya duit. Tapi memang karena kebiasaan buruk saya ketika fokus ngerjain project adalah lupa makan (sepertinya butuh seseorang untuk mengingatkan, berminat?). Entah kalo lagi ngerjain sesuatu terus dijeda makan tuh pikiran saya suka blank pas mau ngelanjutin, jadi saya seringkali lebih memilih gak makan dulu sampai projectnya agak beres. Kapan beresnya? Yo, mbuh!

Sedikit saran saya menghindari Tifus untuk mahasiswa kos. Istirahat benar dan teratur, manajemen waktu dengan baik supaya tidak sampai mengerjakan tugas dan bermain hingga larut malam. Kalo nonton bola rekamannya aja besok pagi di YouTube. Kalo nonton tausiyah… gapapa deh, saya gak sanggup ngelarang. Jaga pola makan dan kebersihannya, untuk inget makan gausah cari pacar buat ngingetin, pasang alarm + disiplin! Soal bersihnya relatif sih, pokoknya jangan ngambil di tengah jalan. Sering-seringlah nonton DR.OZ Indonesia, biar termotivasi hidup sehat. Mendekatkan diri kepada Allah, jiwa dan raga kita ada di tangan-Nya, tetaplah mensyukuri nikmat-Nya dan bertawakal atas ketetapan-Nya.

Memang sakit itu kehendak Allah, namun trigger sakitnya kan dari kita juga. Kita dapat meminimalisir kemungkinan sakit dengan menjaga kesehatan (dan kebersihan) di setiap waktu. Karena sayang sekali kalau kita sampai sakit kronis di momen-momen krusial macam ujian akhir semester, pekan akhir deadline laporan magang (ini saya), ditawari job jadi pembicara di event besar, ditawari project bernilai besar, atau berangkat konferensi ke luar negeri. Apa yang harusnya jadi durian runtuh, malah jadi durian busuk yang berisi kekecewaan. Uhh.

Namun kiranya sakit Tifus seminggu ini ada baiknya juga buat saya. Selain jadi berintrospeksi tentang ibadah dan pola hidup, seminggu ini saya jadi cukup luang untuk mulai bergumul dengan pikiran sendiri. Mempertanyakan kebimbangan-kebimbangan yang mengganggu pikiran saya selama ini macam: Bener gak sih yang saya perjuangin ini memang worthy bagi saya, atau saya beneran kebawa arus? Benarkah kita hanya punya 2 dari 3 pilihan, terus prioritas saya yang mana? Menjadi Yes-man banyak manfaat atau mudharatnya? Apa ambisi dan motivasi saya selama ini benar untuk bermanfaat bagi umat atau sekedar nggaya dan jadi inspirashit? Kapan mulai cari nananana (apa hayo) ? Lebih condong jadi programmer atau penulis fiksi? Dan topik lainnya. Kebimbangan-kebimbangan ini sudah terjawab tegas dan mungkin akan mengubah beberapa hal dalam kehidupan saya ke depannya. Ya, kecuali topik ‘programmer atau penulis fiksi?’, jadi power ranger aja dah.

Selain pergumulan pikiran, ternyata ada hal-hal baru yang tanpa saya sadari terjadi selama saya sakit Tifus. Satu contoh sakit Tifus itu sendiri, baru kali ini saya beneran sakit Tifus. Sebelumnya pernah 2 atau 3 kali merasakan gejala Tifus, tapi belum sampai disebut Tifus sudah keburu sembuh. Hal baru lain, baru kali ini selama kuliah saya sakit seminggu, terakhir saya sakit selama itu ialah karena operasi mata ikan jelang SBMPTN. Hal baru lainnya, baru pertama kali saya merasakan kejang, waktu itu jam 3 pagi, kamar mati lampu, leher saya mengeras bak beton dan bola mata saya berputar ke atas. Iya, saya juga takut waktu itu. Sungguh pengalaman kejang bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. Hal baru lainnya, baru kali ini saya melewatkan Hari Raya Idul Adha tanpa ikut shalat sunnah ied dan pesta bakaran. Biasa aja sih. Tapi rasanya kayak ada momen penting kelewat. Hal baru lainnya, baru kali ini sejak saya pindah rumah ke Solo 5 tahun lalu, saya dengan lega mengajak teman saya rame-rame ke rumah. Jadi kemaren cukup banyak juga teman sekelas kuliah dan SIM yang silaturahim ke rumah, seneng juga sih nambah power buat pulih jadi berlipat ganda gitu hwaha.

 

Untuk siapapun yang saat membaca tulisan ini sedang sakit, semoga lekas sembuh. Syafaka/illahu 🙂