#Sharing: Label Itu Fana, Yang Abadi Karya

Label yang melekat dalam diri kita menjadi identitas kita. Lengkap dengan stereotipnya. Ada label yang otomatis tersemat dikarenakan status pekerjaan, status perkawinan, status pergaulan, dan sebagainya. Misal mereka yang dilabeli anak punk secara umum akan dianggap urakan, berandalan, kasar. Mereka yang dilabeli mahasiswa akan dianggap berjiwa muda, bebas, tukang demo, kere, tiap hari makan Indomie. Mereka yang dilabeli penulis akan dianggap kreatif, filosofis, berbakat, dilahirkan bersama pena di tangan dan ilham di jiwanya. Mereka yang dilabeli jomblo akan dianggap… ah, gak tega nulisnya. Adapula label lebih spesifik yang dapat kita usahakan melekat pada diri sendiri. Bahasa mutakhirnya: Branding. Misal mahasiswa aktivis, seniman revolusioner, gamer ganteng… Ampun kakak.Read More »

#Sharing: Berhenti Mengumandangkan Impian

Belakangan ini saya menemukan pandangan baru tentang mengapa sebaiknya kita berhenti ‘mengumandangkan’ impian pribadi.

Eh, mengapa harus berhenti?

Gini sob, saat kita membicarakan impian pribadi kita pada orang lain, mungkin kita akan mendapat respon semacam… “Keren banget!”, “Aku percaya kamu bisa!”, “Kamu hebat!”, “Lavyu!” (lho kok), dan respon positif lain yang membesarkan hati kita.

Ya trus kenapa? Bukannya bagus dapat respon gitu?Read More »

#Sharing: Bagaimana Saya Berhenti Menonton Anime

Sebagaimana saya menulis Mengapa Saya Berhenti Menonton Anime, saya merasa perlu sharing tentang bagaimana (saya) melakukannya. Mungkin terdengar sulit karena kecanduan sesuatu seperti Anime dan remeh-temehnya bisa semengerikan kecanduan rokok dan narkoba—if u are the next level one. Tapi kamu tak akan pernah tahu jika tak mencoba. Berikut beberapa langkah yang saya lakukan hingga saya berhenti menonton Anime secara total, besar harapan kamu mencobanya juga…Read More »